Restorasi yang Datang dari Timur

MRC FGD
Ketua Umum Partai Nasdem, Surya Paloh berpidato saat pembukaan seminar nasional dan focus group discussion (FGD) bertajuk Restorasi Kebiaka Ekomom utuk Percepatan KemandiranBangsadi Hotel Bumi, Surabaya. Kamis (28/1). Dalam pidatonya Surya Paloh menilai Jawa Timur memiliki potensi yang besar di sekotor ekonomi.

Konsep Jatimnomics yang dikembangkan Gubernur Jawa Timur H Soekarwo direkomendasikan sebagai model restorasi kebijakan ekonomi nasional dan daerah. Jatimnomics dinilai mampu mengembangkan perekonomian Jawa Timur dan mengurangi angka kemiskinan, saat pertumbuhan ekonomi nasional menurun.

DENGAN penampilan tenang, nyaris tidak pernah meledak-ledak, Soekarwo mampu membawa Jawa Timur menjadi provinsi yang unggul. Berduet dengan Syaifullah Yusuf, pria asal Madiun itu mampu membuat ekonomi Jawa Timur terus menggeliat, bahkan menjadi sangat tangguh.

Kinerja perdagangan antarpulau Jatim terus meningkat. Potensi transaksi perdagangan 2011 mencapai Rp463 triliun, dan 2014 sebesar Rp741,43 triliun. Keduanya juga membukukan rata-rata potensi transaksi per tahun tumbuh 15%. Yang terkini, Kamis pekan lalu, temu bisnis antara pengusaha lokal dan pengusaha dari 26 provinsi mampu membukukan transaksi yang wah, Rp111 tunai dan Rp23 miliar jangka panjang.

Riset yang dilakukan Media Research Center (MRC) menunjukkan 37,1% dari 28 responden menyatakan restorasi kebijakan ekonomi untuk percepatan kemandirian bangsa merupakan solusi paling mujarab untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi pada 2016. Restorasi kebijakan ekonomi merupakan kalimat yang sudah diwujudkan di Jawa Timur.

Apresiasi terhadap kinerja duet Pakde Karwo-Gus Ipul diberikan Media Research Center (MRC), lembaga riset berbasis media di bawah naungan Media Group. Pekan lalu, MRC menggelar focus grup discussion (FGD) bertajuk Restorasi Kebijakan Ekonomi untuk Percepatan Kemandirian Bangsa di Hotel Bumi, Surabaya.

Bersamaan dengan itu, di tempat yang sama juga digelar Temu Bisnis dan Seminar dengan menghadirkan pengusaha nasional/Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh sebagai pembicara kunci. Sementara itu, Gubernur Jatim H Soekarwo, anggota Komite Ekonomi dan Industri Nasional Hendri Saparini, pengamat ekonomi Chandra Fajri Ananda, dan CEO PT Santos Kapal Api Soedomo juga dihadirkan sebagai narasumber. Seminar yang dihadiri 600 orang mulai dari bupati, wali kota, pengusaha, dan pelaku UMKM itu dimoderatori Suryopratomo, Direktur Pemberitaan Metro TV.

Pada kesempatan itu, Surya Paloh mengingatkan kemandirian ekonomi Indonesia sudah tidak bisa ditawar lagi, karena saat ini Indonesia sudah masuk Masyarakat Ekonomi ASEAN. Masyarakat harus memiliki daya saing, jika tidak, bangsa Indonesia hanya akan menjadi konsumen. Untuk itu, ia meminta Indonesia harus segera berbenah dan menata diri untuk mewujudkan kemandirian ekonomi. Karena dengan potensi kekayaan alam yang besar, Indonesia mampu untuk bangkit menjadi salah satu kekuatan ekonomi yang besar di dunia.

“Pada 1977, Indonesia berhasil memiliki Tol Jagorawi sepanjang 60 km, dan saat itu Tiongkok masih belum memiliki jalan tol. Namun, sekarang Indonesia tertinggal jauh,” terang Surya. “Terhadap duet Pakde Karwo-Gus Ipul, Surya mengakui kedua pemimpin itu memiliki jiwa entrepreneur dan visioner. “Jawa Timur harus menjadi lokomotif restorasi ekonomi.

“Effendi Choirie, Ketua Panitia Seminar Nasional, menambahkan, Jawa Timur layak menjadi model kebijakan ekonomi nasional. “Pemimpin Jatim mampu menjaga kepercayaan dan menyinergikan kinerja dengan kabupaten/kota.”Sementara itu, Candra Fajri Ananda, Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya, Malang, menilai Jawa Timur sudah memiliki konsep ekonomi yang jelas dan menjaga kemandirian. “Di bidang pendidikan, Jatim berorientasi meningkatkan SDM, dan di bidang pertanian melindungi petani dengan melarang impor daging dan beras.”Alhasil, Jawa Timur terus didorong untuk membongkar paradigma lama. “Regulasi harus berpihak pada rakyat. Kebijakan ekonomi harus inklusif konstitusional, menolak ekonomi pasar dan membangun kedekatan dengan rakyat,” tegas Hendri Saparani.

Masyarakat terlibat

Sementara itu, dalam FGD, para narasumber melihat selama dua dasawarsa ini, duet Pakde Karwo dan Gus Ipul telah mengembangkan empat jalur dalam pembangunan ekonomi. Keberhasilan pembangunan ekonomi Jatim ditandai dengan penciptaan lapangan kerja (37,1%), pengurangan kemiskinan (27,7%), pertumbuhan ekonomi regional (18,3%), dan pembangunan ekonomi ramah lingkungan (17%).

Mereka juga sepakat perlunya penciptaan lapangan kerja dalam konsep pembangunan, khususnya keterkaitan tumbuhnya angkatan kerja selaras dengan peta demografi. Penciptaan lapangan kerja diyakini sebagai pemicu terhadap pengurangan jumlah kemiskinan.

Di Jawa Timur, Gini Ratio pada 2014 mencapai 0,37 lebih rendah daripada angka nasional 0,41. Riset yang dilakukan MRC juga memperlihatkan jumlah penduduk miskin pada periode 2015 berjumlah 4,77 juta, turun dari tahun sebelumnya yang sebesar 4,79 juta. Demikian juga soal tingkat pengangguran terbuka, pada 2015 di Jatim mencapai 4,47% dari jumlah penduduk, lebih kecil daripada tingkat nasional yang 6,18%.

Pakde Karwo tidak ingin tenggelam dalam angka keberhasilan dan puja-puji. “Kami mengembangkan konsep trisula. Jatimnomics itu merupakan trisula strategi pembangunan,” tegasnya.

Trisula pembangunan itu terdiri dari produksi (UMKM dan perusahaan besar), sistem pembiayaan, dan pengembangan perdagangan/pasar. Targetnya, lanjut dia, semua unsur dilibatkan untuk mengambil keputusan bersama dan bertanggung jawab atas apa yang telah dibuat pengambil keputusan. “Masyarakat yang dilibatkan mampu bergairah dalam menjalankan perekonomian, karena dapat kredit murah untuk UMKM khususnya yang feasible dan bankable,” jelasnya.

Dalam pandangan Gubernur Jatim, pembangunan ekonomi pada dasarnya memberikan kesempatan yang sama kepada seluruh masyarakat untuk berpartisipasi di dalam aktivitas ekonomi alias pertumbuhan yang inklusif. Jatimnomics menempatkan pembangunan bukan hanya pertumbuhan ekonomi, melainkan juga mampu mengurangi tingkat kemiskinan dan ketimpangan.

Wakil Gubernur Syaifullah Yusuf mengakui Jatimnomics bertumpu pada tiga aspek fundamental, yaitu pembangunan manusia, reformasi birorkasi, dan pengembangan infrastruktur. “Restorasi kebijakan ekonomi merupakan kekuatan fundamental untuk melakukan perubahan regulasi atau undang-undang dengan memberikan kesempatan yang lebih luas kepada kegiatan ekonomi masyarakat lokal dan UMKM. Pemerintah pusat dan daerah lain dapat belajar bersama melakukan tranformasi ekonomi lokal menjadi ekonomi nasional,” tandasnya. (FJH.MRC/N-3)

Leave a Reply

Your email address will not be published.