Restorasi Lahan Gambut sudah Mendesak

RESTORASI lahan gambut di Indonesia harus segera dilakukan mengingat tingkat kerusakannya yang sudah serius.

Deklarasi
Gerakan Rakyat Peduli Gambut: Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Dwikorita Karnwati (tengah berjilbab) berfoto bersama masyarakat dari berbagai komponen sesusai Deklarasi Yogya: Gerakan Rakyat Peduli Lahan Gambut di Balairung Gedung Pusat UGM, Yogyakarat, kemarin.

Karena itu, semua pemangku kebijakan di pemerintahan yang berhubungan dengan masalah gambut harus bahu-membahu mendukung upaya strategis tersebut.

Demikian benang merah yang mengemuka dalam acara Focus Group Discussion (FGD) yang dise-lenggarakan Universitas Gadjah Mada bekerja sama dengan Media Research Center Media Group di ruang sidang Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) UGM Yogyakarta, kemarin.

Menurut peneliti dari Center for International Forestry Research (CIFOR) Herry Purnomo, restorasi lahan gambut selain berfokus pada hal teknis juga memerlukan pendekatan sosial, ekonomi, dan dukungan politik yang kuat.

“Selama ini pemerintah lebih banyak fokus dalam pengadaan dan kegiatan berbasis teknologi. Tidak banyak kegiatan dengan pendekat-an sosial kemasyarakatan untuk mengatasi masalah kebakaran lahan gambut yang telah terjadi selama 17 tahun terakhir tersebut,” ujar Herry menyampaikan pandangannya.

Ditambahkan Herry, berbagai pendekatan terhadap seluruh pemegang kepentingan harus dilakukan secara komprehensif.

Tidak hanya pada pemerintah daerah dan korporasi, tetapi juga dengan warga lokal dan masyarakat adat yang bergantung hidup pada hasil hutan.

Acara FGD yang mengambil tema Aksi bersama pengelolaan lahan gambut lestari tersebut dihadiri sekitar 30 perwakilan dari berbagai latar belakang, di antaranya akademisi, masyarakat adat, aktivis lingkungan, pemerintah, hingga koorporasi.

Mereka berhasil menelurkan dan menandatangani draf Deklarasi Jogja.

Draf yang berisi enam poin tersebut berfokus pada komitmen semua yang terlibat untuk melakukan pemulihan dan pengelolaan lahan gambut dalam jangka pendek, menengah, dan panjang.

“Ini kami buat sebagai awalan untuk merencanakan dan melakukan kegiatan selanjutnya demi menyelamatkan lahan gambut,” ujar Rektor UGM Dwikorita Karnawati.

Gerakan yang dinamakan Gerakan Rakyat Peduli Gambut tersebut, dikatakan Dwi, selanjutnya akan terus berkoordinasi untuk melakukan ‘respons cepat’ atas dampak kebakaran pada lahan gambut.

Seperti diketahui, tahun ini kebakaran hutan telah menghanguskan lahan gambut seluas 2.640.049 hektare.

Ancam peradaban

Budayawan Radhar Panca Dahana dalam FGD tersebut menegaskan bahwa kebakaran lahan gambut telah menciptakan bencana bagi bangsa yang mencakup semua dimensi.

“Kebakaran hutan yang terjadi belakangan ini telah mengubah kebudayaan yang telah ada ribuan tahun. Lahan gambut harus terus dijaga dan dilestarikan.”

Perubahan ekologi gambut yang terjadi juga harus disampaikan kepada masyarakat adat yang hidup di area lahan gambut.

Hambali, wakil masyarakat adat Jambi, sependapat dengan Radhar, terkait pentingnya perhatian terhadap masyarakat adat.

“Sejak dari dulu masyarakat adat membuka lahan dengan cara membakar hutan, tetapi tidak pernah sampai terjadi kebakaran yang panjang seperti saat ini,” kata dia.

Asep Setiawan, General Manager MRC Media Group, menambahkan Indonesia yang memiliki lahan gambut lebih dari 20 juta hektare tentunya bernilai tinggi bagi kehidupan, baik dari sisi lingkungan, sosial, maupun ekonomi.

“Dari FGD ini diharapkan bisa berlanjut untuk mencari dan membagi solusi dalam pengelolaan lahan gambut yang lestari,” katanya.

(Pro/FU/H-1)

4 thoughts on “Restorasi Lahan Gambut sudah Mendesak

  1. Pingback: Billige Fodboldtrøjer Børn

  2. Pingback: fotballdrakter

  3. Pingback: fotbollströjor

  4. Pingback: fußballtrikots