Beri Solusi bagi Masyarakat Sekitar Hutan

Penulis: Putri Rosmalia Oktaviani

Berita terkait hasil FGD “Solusi Titik Api” (selasa 3 november 2015)

PERHATIAN terhadap masyarakat menjadi hal penting yang diprioritaskan dalam pencegahan kebakaran hutan dan lahan.

2015-11-09_ 00-16941_1_hutan2

Kebutuhan hidup, konflik perebutan lahan, dan minimnya pengawasan kerap jadi pemicu pembakaran hutan dan lahan oleh masyarakat dengan berbagai alasan terutama ekonomi.

Plt Gubernur Jambi Irman mengatakan, selain korporasi, kebakaran hutan pun kerap terjadi akibat praktik pembakaran yang dilakukan masyarakat.

Mereka melakukan pembakaran guna memanfaatkan dan membudidayakan lahan menjadi perkebunan kelapa sawit.

Pembakaran lahan yang dilakukan tanpa pengawasan dan kontrol menyebabkan merambatnya api ke hutan dan lahan yang lebih besar.

“Mereka membakar agar dapat lebih murah dan cepat memanfaatkan lahan. Mungkin sebenarnya lahan yang mereka bakar tidak seberapa luas. Namun, ketika sudah ada api di lapangan, risiko menjalarnya api yang terbawa oleh angin ditambah dengan kondisi cuaca yang kering membuat kebakaran menjadi besar dan luas,” ujarnya pada kelompok diskusi terfokus yang digelar Media Research Center, di Media Group, Jakarta, pekan lalu.

Irman mengatakan masyarakat di berbagai daerah sekitar kawasan hutan hingga saat ini masih banyak menggantungkan hidup dengan memanfaatkan hutan.

Namun, banyak di antara mereka yang tidak mengerti mengenai aturan yang seharusnya dipatuhi guna menjaga keseimbangan ekosistem, terutama di kawasan gambut.

“Mereka menggantungkan hidup dari sana. Untuk itu bila ingin melarang dan mengentaskan praktik pembakaran lahan juga harus ada solusi bagi mereka sehingga mereka tetap bisa mendapatkan penghasilan,” ujar Irman.

Senada, pengamat kehutanan Elisa Ganda Togu Manurung mengatakan akar permasalahan harus terlebih dahulu ditemukan dan diselesaikan untuk dapat sepenuhnya menyelesaikan persoalan kebakaran hutan dan lahan.

Konflik teritorial menjadi salah satu akar masalah yang belum banyak mendapat perhatian dalam upaya penyelesaian kebakaran hutan dan lahan.

“Banyak terjadi konflik teritorial, baik masyarakat dengan masyarakat ataupun masyarakat dengan perusahaan. Belum ada pendataan yang akurat mengenai batas-batas dan hak pengelolaan lahan. Banyak ditemukan areal tidak bertuan yang menimbulkan banyak konflik perebutan pengelolaan.”

Dalam kondisi konflik, pembakaran lahan kerap dilakukan sebagai salah satu upaya penyerangan atau mempertahankan wilayah yang diperebutkan tiap kelompok.

Pembakaran yang terjadi dalam keadaan konflik dan tidak terkontrol itu lalu merambat ke berbagai kawasan hutan di sekitarnya.

Namun, pendapat berbeda disampaikan Deputi Pelayanan dan Pemberdayaan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (Aman) Annas Radin Syarief.

Menurut dia, praktik pembakaran hutan memang kerap dilakukan masyarakat adat.

Namun, hal itu dilakukan dengan cara-cara yang sesuai adat dan tidak berdampak pada kerusakan dan perluasan kebakaran.

Pengadaan alat

Sebaliknya, peneliti Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Tukirin Partomiharjo menyampaikan perlu solusi bagi warga sekitar hutan berupa bantuan alat untuk mempermudah pemanfaatan lahan mereka.

“Mereka harus dibantu agar bisa cepat menggunakan lahan tanpa adanya praktik yang merusak ekosistem,” ujarnya.

Selain itu, jelas Tukirin, edukasi dan sosialisasi kepada warga menjadi hal yang harus terus dilakukan.

Kerap terdapat warga yang belum mengerti dan peduli mengenai dampak buruk beserta rusaknya ekosistem akibat pembakaran hutan dan lahan, terutama lahan gambut.

(Pro/H-2)

Leave a Reply

Your email address will not be published.